Kita mulai dari mana, ya?
Hmm...
Pertama.. saya turut berduka cita atas tragedi bencana besar beberapa hari lalu, yang terjadi bahkan di 3 provinsi sekaligus. Bencana itu tidak bisa dihindarkan, namun sudah terprediksi. Banyak yang masih belum memahami bahwa bencana ini, bukan hanya disebabkan oleh "kerusakan alam", karena terdapat siklon tropis yang diberi nama "Senyar". Sebelumnya, siklon tropis sejenis memang sangatlah sangat jarang melintasi wilayah dibawah garis khatulistiwa, karena terdapat perbedaan arah angin, alias angin belahan bumi utara dan selatan bertolak belakang. Makanya, antisipasi dari bencana ini masih terbilang sangat "minim" alias sebagian besar warga setempat masih menganggap remeh, walaupun juga beberapa warga mengetahui hal ini, dan akibatnya, sangat fatal bagi mereka sendiri.
Seperti apa yang dikatakan Bapak Presiden, bahwa sangat penting untuk pendidikan penanggulangan bencana alam, tidak sekedar sosialisasi dari dinas terkait misalnya pemadam kebakaran lokal. Sangat teledor bagi kita yang hidup berdampingan dengan ancaman nyata dari alam mengabaikan indikator berbahaya dari alam sekitar kita, dan tetap bersikap tenang begitu saja. Masih inget gempa+tsunami palu? masih inget gempa jogja dan pantai selatan + erupsi merapi?? tau karhutla serentak sumatra-kalimantan?? itu semua cakupannya juga luas, tapi semua bisa tertangani karena kita lebih terbiasa menghadapinya, ditambah juga tidak seluas jika dibandingkan dengan yang baru baru ini. Bandingin juga sama negara negara asean lain, yg lebih sering terkena dampak siklon tropis, bahkan bisa sangat parah, daripada indonesia yang "relatif aman". Karena negara-negara seperti Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, Dan lainnya, lebih "mengenal" karakteristik dari bencana akibat siklon tropis dan lebih memiliki pengalaman dibanding kita, karena mereka lebih sering terkena siklon tropis, dibanding kita.
Sebenarnya saya pernah memprediksi, bahwa wilayah sumatra, terutama belahan utara, relatif aman. Namun, jika terjadi suatu kondisi yang lebih berat dari biasanya (misalnya intensitas hujan lebih tinggi) akan berdampak lebih fatal,
Sekarang mungkin pembahasan lebih berfokus, pada satu willayah. Sebuah kota terpencil yang dikelilingi medan ekstrem, yang geografisnya hampir serupa dengan kota pimpinan saya di Transport Fever 2. Sebenarnya, kota Sibolga ini merupakan lokasi yang "Sempurna", terutama untuk perdagangan laut, karena terletak di sebuah teluk. Pesisir barat sumatera sangat susah untuk dibangun pelabuhan besar karena ombak dari samudera hindia, sama kasusnya seperti pesisir selatan pulau jawa yang dimana kota pelabuhan besar mungkin hanya Cilacap dan Pangandaran/Pelabuhanratu, namun berbeda dengan pesisir barat sumatra yang lebih panjang dan memiliki lebih banyak pelabuhan, juga karena beberapa bagian sumatra pesisir barat ditutupi kepulauan Mentawai yang berfungsi sebagai pelindung ombak alami.
Hal tersebut sangat mirip dengan kondisi geografis kota fiksi "Muareta" buatan saya ini. Namun, biasanya jika kondisi daerahnya seperti sebelumnya, sebagian besar letaknya pasti dipinggir tebing-tebing perbukitan yang terjal, dengan kondisi geografisnya yang ekstrem. Kondisi seperti diatas sangat memungkinkan dapat terjadi bencana-bencana alam terduga, misalnya tanah longsor yang marak terjadi, kecuali daerahnya sudah diproteksi oleh perlindungan yang mumpuni.
Selain itu, wilayah seperti kota "Muareta' dan kota Sibolga sangat rawan terjadi banjir besar jika curah hujan tinggi, ditambah dengan dampak dari siklon tropis tak terduga seperti sebelumnya. Geografis seperti kota sibolga biasanya merupakan daratan muara sungai-sungai dari kawasan pegunungan disekitarnya, yang walaupun alirannya kecil, jika terjadi hujan lebat akan fatal bagi kota dibawahnya.
Dan, apabila sudah terjadi bencana besar seperti yang baru ini, otomatis kota Sibolga akan terkepung hampir di segala arah. Saat ini, kondisi kota Sibolga terkepung oleh longsor di sisi utara kota (Batu Lubang), Dan di tumur + barat kota. Satu-satunya sumber bantuan yang memungkinkan hanyalah melewati jalur Laut, alias menggunakan kapal laut. Masalahnya, pelabuhan Sibolga sepertinya sulit untuk menerima kapal-kapal besar, karena teluknya yang sempit.
Pada akhirnya, para korban harus tetap sabar menunggu pertolongan dari pemerintah pusat. Dan hendaknya pemerintah segala mengarahkan bantuan yang memadai dan secepatnya, serta merata dan menyeluruh kepada seluruh korban yang terdampak. Dan dapat segera memperbaiki infrastruktur, jalan nasional penghubung antarkota, sehingga mobilitas bantuan lebih cepat tiba dan semakin cepat dalam "menyembuhkan" luka dalam hati korban terdampak langsung.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar