A. Latar Belakang
Pesisir utara jawa merupakan kawasan yang sangat penting
bagi perkembangan pulau jawa. Mulai dari awal perkembangan manusia, pada era
manusia purba, banyak dari mereka yang bertumbuh di kawasan pesisir utara jawa
(dulu masih dalam bentuk Sundaland. Banyak bukti bukti petunjuk dari keberadaan
manusia purba di pesisir utara, beberapa contohnya seperti penemuan kerangka
dari manusia purba di Banten dan Gresik, Jawa Timur. Mereka berkembang di utara
jawa mungkin disebabkan oleh melimpahnya sumber panganan yang ada dulu, karena
masih terdapat Sundaland. Para manusia purba tersebut kemudian kemungkinan
berpindah ke bagian tengah pulau jawa, beberapa contohnya yaitu seperti di
Sragen dan Ngawi.
Beranjak dari masa manusia purba, memasuki era kerajaan
kerajaan. Pada awalnya, tidak terlalu banyak catatan yang mencatat keberadaan
kerajaan di pesisir utara pulau Jawa. Itu bisa dipahami karena masyarakat
Nusantara pada saat masa itu tidak memiliki budaya tulis menulis, mencatat
kegiatan yang mereka lakukan. Masyarakat pesisir utara pada era Kerajaan awal
lebih berfokus pada pelayaran dan perdagangan saja, tanpa menulis ataupun
mencatat apapun dari itu.
Masyarakat pesisir utara mulai terbaca keberadaannya dimulai
dari masa kerajaan-kerajaan islam Nusantara yang banyak terletak di pesisir
utara. Asalnya, para pedagang yang beragama islam yang berasal dari berbagai
penjuru dunia, misalnya timur tengah dan tiongkok, datang ke Nusantara
bertujuan untuk berdagang dan menyebarkan ajaran agama baru bagi penduduk
Nusantara, yaitu Islam. Mereka, para pedagang muslim, tiba di Nusantara pertama
kali di Aceh dan berdagang di sana. Kemudian mereka juga tiba di pulau Jawa,
tepatnya di pesisir utara. Mereka menetap di sana dan kemudian berdagang dan
menyebarkan agama Islam.
Singkat cerita, berdiri banyak kerajaan Islam di pesisir
utara pulau Jawa. Dengan adanya banyak kerajaan di pesisir utara, maka ikut
berkembang juga pemukiman dan peradaban di pesisir utara itu. Mereka membangun
peradaban di pesisir utara jawa yang bertujuan agar lebih dekat dengan pasar,
pelabuhan, dan pusat pemerintahan saat itu. Peradaban di pesisir utara jawa
berkembang dengan sangat cepat, dan sehingga pada suatu waktu, dapat
mengalahkan kecepatan pertumbuhan peradaban yang terletak di bagian tengah pulau
jawa, seiring dengan menurunnya pamor dan pengaruh dari kerajaan Majapahit di
bagian tengah pulau jawa.
Perlahan-lahan, pusat peradaban pulau jawa berpindah dari
bagian tengah menjadi ke pesisir utara jawa. Dan kepercayaan mayoritas
Nusantara berubah menjadi Islam.
Kemudian, saat pemerintah kolonial masuk, pengaruh kerajaan
pesisir utara jawa sedikit menurun akibat dari kebijakan dari kolonial . Namun,
pusat pemerintahan kolonial belanda berada di Batavia, yang juga terletak di
pesisir utara Jawa. Pemerintah kolonial Hindia Belanda merancang kota Batavia
menjadi seperti “Amsterdam”.
Batavia awalnya merupakan daerah rawa sehingga sangat mudah
untuk terjadi Banjir, sehingga Belanda membangun banyak kanal-kanal untuk
mencegah terjadinya banjir dan untuk transportasi.
Setelah Indonesia “Memerdekakan Diri”, banyak fasilitas atau
peninggalan kolonial belanda yang ditinggalkan begitu saja. Kanal kanal
ditinggalkan, dan mulai tumbuh pemukiman-pemukiman yang tidak terkendali.
Masyarakat Batavia (Berubah menjadi Jakarta) mulai membangun rumah-rumah liar,
dan kemudian mengambil air tanah untuk sebagai sumber air. Mereka tidak
memperdulikan ataupun memperhatikan dampak jangka panjang bagi masa depan
mereka sendiri.
B. Analisis Masalah & Pembahasan
1. Pemukiman Liar
Permukiman liar sudah menjadi masalah yang mendarah daging
di Indonesia, bahkan sejak era kolonial Hindia Belanda. Pemukim liar sudah
mulai tumbuh saat era kolonial terutama di kota-kota pelabuhan seperti Batavia,
Surabaya, Semarang, atau Medan.
Pemerintah kolonial pada saat itu gencar membangun kawasan
“Kota Modern” untuk orang orang pendatang dari Eropa, dengan sanitasi yang baik
dan jalan yang bagus dan lebar. Sedangkan, pribumi banyak yang membangun
rumah-rumah liar di pinggiran kota tanpa izin yang resmi. Namun, pemerintah
kolonial tidak mengambil pusing hal ini. Mereka tidak fokus untuk memberantas
pemukiman liar, hanya menjaga agar tidak mengganggu kawasan Eropa. Hal ini yang
akan mempengaruhi mental rakyat Nusantara nantinya.
Setelah perginya Belanda dan Jepang, pada masa awal
kemerdekaan, terjadi urbanisasi. Banyak penduduk dari desa yang berpindah ke
kota, sehingga memunculkan kampung kota dan hunian liar di lahan milik negara,
dan di bantaran rel kereta api/sungai. Karena pada dasarnya memang SDM
masyarakat Indonesia kala itu masih peninggalan belanda dan masih bermental
“Maling”. Sayangnya, pemerintah RI pada saat itu lebih sibuk dengan masalah
politik dan ekonomi untuk negara yang masih sangat muda ini, sehingga belum ada
kebijakan langsung dari pemerintah terkait hal pemukiman liar yang semakin
padat.
Pada masa Orde Baru, urbanisasi semakin pesat. Pemukiman
liar makin meluas di hampir seluruh kota besar, seperti Jakarta, Bandung,
Medan, Surabaya, Dan masih banyak lagi. Pada awal Orde Baru, banyak penertiban
dan penggusuran kawasan kumuh, terutama di Jakarta oleh Gubernur Ali Sadikin.
Di masa ini, pemerintah berfokus pada citra kota modern dan proyek-proyek
besar, seperti monumen, jalan raya, dan hotel. Indonesia juga membuat program Kampung
Improvement Program (KIP). Bekerja sama dengan Bank Dunia, alih-alih
menggusur, pemerintah memperbaiki kampung liar dengan infrastruktur dasar
(jalan, air, listrik, sanitasi). Pada akhir Orde Baru, lebih banyak proyek
Perumnas, tapi tetap terjadi penggusuran di lahan strategis untuk pembangunan
industri. Pada saat Reformasi, semua menjadi sedikit lebih baik dengan
pendekatan yang lebih manusiawi, berbasis masyarakat, meski penggusuran tetap
terjadi.
Para pemukim liar membangun rumah di atas tanah timbul,
bantaran sungai, atau reklamasi liar, yang menyebabkan rentan terhadap banjir
rob dan abrasi. Karena status lahan yang ilegal, akses layanan publik seperti
drainase sering minim.
2. Faktor Alam
Hilangnya garis pantai karena ombak dan arus laut yang
menghantam daratan juga bisa mengkikis daratan. Penyebabnya karena mangrove,
sebagai pelindung alami, ditebang untuk dijadikan tambak atau lahan pemukiman,
sehingga garis pantai tidak terlindungi. Ini menyebabkan garis pantai mundur
hingga ratusan meter seperti di Demak, Sayung, Pekalongan, Subang, Indramayu.
Hilangnya hutan mangrove menyebabkan kerusakan ekosistem karena hilangnya
penahan abrasi dan perangkap sedimen.
Kenaikan muka air laut juga turut berpartisipasi dalam
mengikis pesisir utara Jawa. Disebabkan oleh Perubahan Iklim Global, laju
kenaikan air laut menjadi kurang lebih 3-5 mm/tahun dapat
memperparah kondisi banjir rob yang sudah parah sekarang. Jika ini
dikombinasikan dengan penurunan tanah tadi, dampaknya menjadi jauh lebih cepat
dan berbahaya.
3. Faktor Manusia
Kota-kota pesisir utara Jawa, misalnya Jakarta, Semarang,
dan Demak, mengalami penurunan muka tanah hingga 10-20 cm per tahun. Hal ini
dapat disebabkan oleh penyedotan air tanah secara berlebihan, beban bangunan
berat, dan padatnya pemukiman/industri. Ini menyebabkan daratan lebih rendah
dari laut dan membuatnya mudah tergenang air rob dan semakin terkikis jika
tidak ada solusi.
Lalu ada Reklamasi dan Alih Fungsi Lahan Pesisir.
Pembangunan pelabuhan, industri, kawasan wisata, dan perumahan di pesisir
dengan membuat reklamasi dapat mengubah arus laut alami. Reklamasi di suatu
wilayah seringkali membuat wilayah lain terkena abrasi yang lebih parah.
Tata ruang yang buruk dikombinasikan dengan permukiman liar
di pesisir laut juga turut menjadi alasan. Banyaknya kampung nelayan dan
permukiman liar bersiri di atas tanah timbul atau bantaran sungai. Karena juga
tidak ada infrastruktur pelindung seperti tanggul dan drainase, kawasan seperti
ini akan menjadi yang paling cepat terkikis.
Infrastruktur yang beradadi pesisir juga banyak yang kurang
modern dan bahkan ada yang tidak terawat. Tanggul laut banyak yang jebol atau
tidak cukup tinggi untuk menahan air laut. Normalisasi sungai juga masih belum
maksimal. Sedimen dan banjir akan memperparah kerusakan pesisir pantai utara
pulau Jawa.
C. Dampak dan Pengaruhnya
1. Dampak Buruknya Tata Letak Permukiman di Pesisir Utara Jawa
a. Lingkungan Permukiman liar di bantaran sungai dan pesisir dapat menutup saluran air, dan kemudian akan memperparah dampak banjir. Penebangan mangrove untuk tambak/rumah yang membuat hilangnya pelindung alami dari abrasi. Dan sampah dan limbah domestik dapat mencemari laut dan merusak ekosistem pesisir.
c. Ekonomi Lokasi yang tidak strategis (rawan banjir & abrasi) akan menurunkan nilai tanah. Warga miskin juga akan sulit berkembang karena kehilangan rumah/akses ke laut untuk melaut. Biaya perbaikan infrastrukturnya juga pasti akan lebih mahal karena wilayah sulit ditata ulang.
2.
Dampak Banjir Rob di Kawasan Pesisir Utara Jawa
Banjir rob (air laut pasang yang masuk ke daratan) makin
sering dan parah karena abrasi + penurunan tanah. Dampaknya:
a. Lingkungan
Tanah menjadi salin (asin) menjadi tidak bisa ditanami, sawah gagal panen (contoh: Demak, Pekalongan). Infrastruktur (jalan, jembatan, rumah) rusak permanen karena terendam air asin. Ekosistem pesisir (tambak, mangrove) terganggu.
b. Sosial
Rumah warga rusak atau tenggelam yang mengakibatkan ribuan orang terpaksa pindah (climate refugees lokal). Hal tersebut membuat anak-anak sulit sekolah karena akses jalan tergenang. Menimbulkan stres sosial & konflik lahan (antara warga, pemerintah, dan pengembang).
c. Ekonomi
Nelayan sulit beraktivitas karena perahu tidak bisa sandar di daratan yang terendam. Industri dan pelabuhan terganggu, menjadikan distribusi barang dan ekonomi daerah melemah. Biaya pembangunan tanggul & relokasi warga sangat besar (misalnya di Semarang dan Jakarta Utara).
D. Solusi
Pihak pemerintah, dalam beberapa waktu terakhir tengah
menyiapkan strategi dan solusi nasional bagi kawasan pantai utara, dengan
membentuk Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa. Dengan bantuan tambahan dari
Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Badan Otorita ini diproyeksikan akan menggarap
megaproyek nasional, proyek Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall.
Lokasi yang tidak strategis (rawan banjir & abrasi) akan
menurunkan nilai tanah. Warga miskin juga akan sulit berkembang karena
kehilangan rumah/akses ke laut untuk melaut. Biaya perbaikan infrastrukturnya
juga pasti akan lebih mahal karena wilayah sulit ditata ulang.
Hilangnya garis pantai karena ombak dan arus laut yang
menghantam daratan juga bisa mengkikis daratan. Penyebabnya karena mangrove,
sebagai pelindung alami, ditebang untuk dijadikan tambak atau lahan pemukiman,
sehingga garis pantai tidak terlindungi. Ini menyebabkan garis pantai mundur
hingga ratusan meter seperti di Demak, Sayung, Pekalongan, Subang, Indramayu.
Hilangnya hutan mangrove menyebabkan kerusakan ekosistem karena hilangnya
penahan abrasi dan perangkap sedimen.