Jepang menginvasi Sumatra pada tahun 1942, dan menggunakan para insinyur dari Kereta Api Burma Thailand yang terkenal, menempatkan lebih dari 120.000 budak yang baru ditangkap untuk bekerja membangun kereta api. Budak-budak ini bukan hanya orang Indonesia lokal, tetapi juga POW yang ditangkap ketika koloni timur jatuh. Jalur yang awalnya direncanakan dibangun untuk membantu perekonomian kekaisarann jepang ini justru secara perlahan "membunuh" kekaisaran jepang akibat banyaknya tekanan internasional dan perekonomian yang semakin memburuk akibat perang yang sedang berlangsung saat itu. Jepang saat membangun jalur kereta ini juga seperti berlawanan dengan apa yang diharapkan belanda saat ingin membangun jalur ini, dan lebih memilih jalur mudah dan murah, yaitu melewati lembah silokek yang curam dan terjal, serta rawan luapan sungai indragiri yang mengalir deras di sampingnya.
I.I. Hindia Belanda
Pemerintah Hindia Belanda sudah pernah melakukan dan menyelidiki kemungkinan terhadap konektivitas pantai barat sumatera dengan pantai barat sumatera. Jalur yang direncanakan dan diperkirakan akan membantu perekonomian dan mobilitas hindia belanda di sumatera. Salah satunya adalah terbukanya akses pertambangan batubara ke pelabuhan penting di sumatera. Jalur ini direncanakan untuk melanjutkan rel yang sudah ada dari stasiun muaro.
Surveyor Belanda, W. H. de Greve (1870) memimpin ekspedisi yang menembus lembah silokek dengan hutannya yang masih lebat kala itu, dan kemudian merancang rencana jalur yang paling aman dan memungkinkan, serta mengutamakan keamanan. de Greve merencanakan jalur kereta di selatan sungai Indragiri dari Muaro hingga mencapai tebing ngarai yang terlihat sulit ditembus, yang kemudian akan memasuki sebuah terowongan, beberapa ratus meter dan keluar terowongan di tebing terjal tersempit di jurang. Kemudian selanjutnya akan dibangun jembatan melintasi sungai indragiri dan akan memasuki ke sebuah terowongan lagi di sisi utara sungai sebelum muncul lebih jauh ke timur di mana kereta api dapat mengikuti kontur tanah di samping sungai.
Jalur berhenti di Padang Tarok di mana sumber daya bisa dimuat ke kapal, yang kemudian akan mengangkut barang menuju Tembilahan di mana dapat dimuat ke kapal pengangkut laut. Rencana ini dianggap sebagai hal mustahil bagi Belanda, sehingga tidak berhasil direalisasikan.
Peta rencana Kereta Api Sumatra (1925) credit https://id.pekanbarudeathrailway.com/muaro-to-pekanbaru
Waktu berlalu, muncullah nama Hans Caspar Bluntschli, merupakan seorang pengusaha asal swiss yang pada tahun 1906 pertama kali menyampaikan gagasan mengenai pembangunan jalur kereta api menuju pekanbaru yang pada masa itu masih dikenal dengan nama pakan baroe. Ide tersebut ia sampaikan melalui sebuah surat yang ditujukan kepada pemerintah kolonial belanda. Dalam surat itu, bluntschli tidak hanya membahas jalur kereta api, tetapi juga mengusulkan agar jalur tersebut terlebih dahulu diperpanjang hingga ke wilayah konsesi tambang batubara di muara lembu. Tujuannya agar ia dapat segera memulai kegiatan penambangan batubara di daerah tersebut.
Namun, gagasan tersebut tidak mendapat tanggapan serius dari pemerintah Belanda. Hal ini disebabkan oleh adanya ketidakpercayaan terhadap bluntschli yang dikenal sebagai sosok dengan ide-ide besar dan ambisius. Selain itu, pada masa itu terdapat berbagai permasalahan lain yang turut menghambat realisasi rencana tersebut, seperti kondisi ekonomi dunia yang sedang mengalami depresi besar, ancaman dari beberapa kelompok suku di wilayah pedalaman, serta medan alam yang keras dan berbahaya bagi para pekerja. Oleh karena itu, rencana pembangunan kereta api tersebut akhirnya ditunda dan tidak segera dilaksanakan.
Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1920, dilakukan ekspedisi survei lanjutan oleh W.J.M. Nivel. Survei ini bertujuan untuk meninjau kembali kemungkinan pembangunan jalur kereta api di wilayah sumatra bagian tengah. Dalam perencanaannya, jalur kereta api dirancang untuk diperluas hingga mencapai tembilahan di pantai timur sumatra. Rencana ini kemudian dituangkan dalam sebuah peta jalur usulan yang diproduksi pada tahun 1925. Selain itu, survei tanah juga dilakukan ke arah pekanbaru guna mengidentifikasi potensi sumber daya alam serta menentukan kemungkinan rute kereta api dan jalan yang dapat dibangun di masa mendatang.
Apabila jalur kereta api menuju tembilahan benar-benar dibangun, maka proyek tersebut sebenarnya cukup masuk akal dari segi ekonomi. Jalur ini direncanakan mengikuti wilayah tanah yang relatif baik di sepanjang sungai indragiri atau kuantan yang memiliki aliran lebar, dalam, dan mudah dilalui oleh kapal-kapal besar terutama di bagian muaranya. Dengan kondisi tersebut, hasil-hasil alam dari pedalaman yang kaya sumber daya seperti batubara dan karet dapat dengan mudah diangkut melalui jalur sungai dan kereta api. Selanjutnya, hasil-hasil tersebut dapat dikirim ke wilayah perdagangan penting seperti singapura atau jawa hanya dalam waktu beberapa hari, sehingga mendukung kegiatan ekonomi dan perdagangan pada masa itu.
I.II. Kekaisaran Jepang
Pada tahun 1942, pasukan Jepang dari pulau jawa telah tiba di sumatra. Dan jepang berusaha agar menyambungkan sumber daya alam sumatra, terutama batubara dan karet yang pada saat itu dibutuhkan Jepang pasca peperangan midway pada pertengahan tahun 1942, dan kebutuhan perang lainnya. Jepang pun membuka kembali proyek ambisius yang sebelumnya pernah dicanangkan oleh Hindia Belanda.
Peta Rancangan Awal Jepang (1942)
source: https://www.riaumagz.com/2018/03/26-lokasi-bersejarah-di-kota-pekanbaru.html
Jepang membuat rencana untuk membangun jalur kereta sepanjang 220 km dari Muaro sampai ke Pekanbaru, mengandalkan rancangan dari beberapa tokoh sebelumnya seperti de Greve, Bluntschili, dan W.J.M. Nivel, mereka mengekspedisi dan mengeksplor trase yang disebut sebelumnya, dan beberapa survei tambahan yang dilakukan oleh Jepang sendiri.
Setelah pekerjaan itu selesai, diharapkan dapat memudahkan Jepang untuk kebutuhan perang nya, seperti memindahkan pasukan nya diantara pantai dengan pantai secara lebih mudah, selain itu juga dapat mendekatkan mereka ke pusat sumber daya alam di pedalaman sumatera. Kereta api ini juga akan menghindarkan jepang dari patroli-patroli darat dan laut yang gencar dilakukan pada saat itu.
Pekanbaru dipilih oleh Jepang sebagai ujung dari jalur kereta salah satunya dikarenakan letaknya yang berada di tepian sungai siak, yang memudahkan Jepang untuk memasukkan kapal kapal, baik kecil maupun besar, untuk dapat berlabuh di dekat emplasemen kereta api, yang kemudian dapat menuju selat malaka dengan relatif cepat. Emplasemen Pekanbaru juga membuka opsi menggunakan dukungan dari udara karena dekat dengan landasan udara, berbeda jika rute dilanjut sampai ke Tembilahan seperti yang diharapkan sebelumnya. Batubara yang nantinya ditambang oleh Romusha dan POW dan kemudian diantar ke Pekanbaru, akhirnya akan menggunakan rute ke Pekanbaru ini.
TO BE CONTINUED :)))))
Tidak ada komentar:
Posting Komentar