Senin, 08 Desember 2025

Mental Pribumi

Mental Pribumi, alias "Inlander Mentality" Yang masih tertancap rapi di dalam hati masyarakat kita.


Stop Membandingkan "Sampah" Kita dengan "Emas" Tetangga. Sindrom "Rumput Tetangga Lebih Hijau" tidak hanya menyerang warga perumahan, tp juga di lingkungan negara. Sering kita dapati netizen cenderung membandingkan kekurangan Indonesia dgn kelebihan terbaik negara lain.


Kenyataan sebenarnya tidak selalu demikian. Ada aspek di mana kritik netizen benar, tapi banyak juga aspek di mana Indonesia sebenarnya melakukan pekerjaan yang luar biasa yang terkadang justru lebih baik dari negara maju, namun luput dari sorotan.


Pertama, perbandingan tidak apple-to-apple. Ketika banjir, netizen membandingkan Jakarta dengan kanal canggih di Belanda atau Jepang. Mereka jarang membandingkan dengan banjir di New York atau Dubai (yang juga lumpuh total saat hujan ekstrem). Contoh lain, netizen membandingkan antrean BPJS dengan layanan kesehatan privat di Singapura. Padahal, jika dibandingkan dengan sistem kesehatan di Amerika Serikat (yang sangat mahal dan tidak menanggung semua orang), BPJS sebenarnya adalah salah satu sistem single-payer terbesar dan terluas di dunia.


Kedua, tantangan geografis dan demografis yang berbeda. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 270 juta penduduk. Mengirim bantuan bencana di Indonesia melibatkan kapal, pesawat, dan truk menembus hutan/laut. Membandingkan kecepatan penanganan bencana di Indonesia dengan negara kontinental (daratan menyatu) atau negara kota seperti Singapura (yang kecil dan infrastrukturnya merata) tentu tidak adil.


Dan yg terpenting, seringkali netizen melupakan kelebihan unik Indonesia yang justru dikagumi negara luar. Ya, misal gotong royong. Dalam penanganan bencana, masyarakat sipil Indonesia bergerak sangat cepat. Seringkali dapur umum warga dan donasi terkumpul sebelum bantuan pemerintah sampai. Di banyak negara barat yang individualis, warga cenderung pasif menunggu aparat.


Tentu saja, tidak bisa dipungkiri ada aspek di mana pemerintah kita memang perlu berbenah, dan inilah yang memicu frustrasi netizen. Utamanya masalah birokrasi & koordinasi. Sering terjadi tumpang tindih kebijakan antar lembaga. Efeknya membuat respon terlihat lambat dan berantakan.


Jadi, apakah Indonesia "selalu kalah jauh"? Jawabannya Tidak.

Netizen seringkali melihat "hasil akhir" negara maju yang sudah mapan ratusan tahun, sementara Indonesia masih dalam tahap membangun sistem yang solid. Kritik itu perlu sebagai kontrol sosial, tapi membenci diri/bangsa sendiri secara berlebihan seringkali menutup mata kita dari kemajuan yang sudah dicapai.

Kritis itu boleh, asal tidak memupuskan harapan.

Pekanbaru Death Railway UNFINISHED

Geopark Silokek, mungkin banyak yang mengenal nama tempat itu. Seperti yang kita tau, di balik tempat yang indah ini juga terdapat jalur ker...