My Yap After Covid
Selasa, 10 Februari 2026
Pekanbaru Death Railway UNFINISHED
Senin, 08 Desember 2025
Mental Pribumi
Mental Pribumi, alias "Inlander Mentality" Yang masih tertancap rapi di dalam hati masyarakat kita.
Stop Membandingkan "Sampah" Kita dengan "Emas" Tetangga. Sindrom "Rumput Tetangga Lebih Hijau" tidak hanya menyerang warga perumahan, tp juga di lingkungan negara. Sering kita dapati netizen cenderung membandingkan kekurangan Indonesia dgn kelebihan terbaik negara lain.
Kenyataan sebenarnya tidak selalu demikian. Ada aspek di mana kritik netizen benar, tapi banyak juga aspek di mana Indonesia sebenarnya melakukan pekerjaan yang luar biasa yang terkadang justru lebih baik dari negara maju, namun luput dari sorotan.
Pertama, perbandingan tidak apple-to-apple. Ketika banjir, netizen membandingkan Jakarta dengan kanal canggih di Belanda atau Jepang. Mereka jarang membandingkan dengan banjir di New York atau Dubai (yang juga lumpuh total saat hujan ekstrem). Contoh lain, netizen membandingkan antrean BPJS dengan layanan kesehatan privat di Singapura. Padahal, jika dibandingkan dengan sistem kesehatan di Amerika Serikat (yang sangat mahal dan tidak menanggung semua orang), BPJS sebenarnya adalah salah satu sistem single-payer terbesar dan terluas di dunia.
Kedua, tantangan geografis dan demografis yang berbeda. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 270 juta penduduk. Mengirim bantuan bencana di Indonesia melibatkan kapal, pesawat, dan truk menembus hutan/laut. Membandingkan kecepatan penanganan bencana di Indonesia dengan negara kontinental (daratan menyatu) atau negara kota seperti Singapura (yang kecil dan infrastrukturnya merata) tentu tidak adil.
Dan yg terpenting, seringkali netizen melupakan kelebihan unik Indonesia yang justru dikagumi negara luar. Ya, misal gotong royong. Dalam penanganan bencana, masyarakat sipil Indonesia bergerak sangat cepat. Seringkali dapur umum warga dan donasi terkumpul sebelum bantuan pemerintah sampai. Di banyak negara barat yang individualis, warga cenderung pasif menunggu aparat.
Tentu saja, tidak bisa dipungkiri ada aspek di mana pemerintah kita memang perlu berbenah, dan inilah yang memicu frustrasi netizen. Utamanya masalah birokrasi & koordinasi. Sering terjadi tumpang tindih kebijakan antar lembaga. Efeknya membuat respon terlihat lambat dan berantakan.
Jadi, apakah Indonesia "selalu kalah jauh"? Jawabannya Tidak.
Netizen seringkali melihat "hasil akhir" negara maju yang sudah mapan ratusan tahun, sementara Indonesia masih dalam tahap membangun sistem yang solid. Kritik itu perlu sebagai kontrol sosial, tapi membenci diri/bangsa sendiri secara berlebihan seringkali menutup mata kita dari kemajuan yang sudah dicapai.
Kritis itu boleh, asal tidak memupuskan harapan.
Sabtu, 29 November 2025
Sumatra
Kita mulai dari mana, ya?
Hmm...
Pertama.. saya turut berduka cita atas tragedi bencana besar beberapa hari lalu, yang terjadi bahkan di 3 provinsi sekaligus. Bencana itu tidak bisa dihindarkan, namun sudah terprediksi. Banyak yang masih belum memahami bahwa bencana ini, bukan hanya disebabkan oleh "kerusakan alam", karena terdapat siklon tropis yang diberi nama "Senyar". Sebelumnya, siklon tropis sejenis memang sangatlah sangat jarang melintasi wilayah dibawah garis khatulistiwa, karena terdapat perbedaan arah angin, alias angin belahan bumi utara dan selatan bertolak belakang. Makanya, antisipasi dari bencana ini masih terbilang sangat "minim" alias sebagian besar warga setempat masih menganggap remeh, walaupun juga beberapa warga mengetahui hal ini, dan akibatnya, sangat fatal bagi mereka sendiri.
Seperti apa yang dikatakan Bapak Presiden, bahwa sangat penting untuk pendidikan penanggulangan bencana alam, tidak sekedar sosialisasi dari dinas terkait misalnya pemadam kebakaran lokal. Sangat teledor bagi kita yang hidup berdampingan dengan ancaman nyata dari alam mengabaikan indikator berbahaya dari alam sekitar kita, dan tetap bersikap tenang begitu saja. Masih inget gempa+tsunami palu? masih inget gempa jogja dan pantai selatan + erupsi merapi?? tau karhutla serentak sumatra-kalimantan?? itu semua cakupannya juga luas, tapi semua bisa tertangani karena kita lebih terbiasa menghadapinya, ditambah juga tidak seluas jika dibandingkan dengan yang baru baru ini. Bandingin juga sama negara negara asean lain, yg lebih sering terkena dampak siklon tropis, bahkan bisa sangat parah, daripada indonesia yang "relatif aman". Karena negara-negara seperti Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, Dan lainnya, lebih "mengenal" karakteristik dari bencana akibat siklon tropis dan lebih memiliki pengalaman dibanding kita, karena mereka lebih sering terkena siklon tropis, dibanding kita.
Sebenarnya saya pernah memprediksi, bahwa wilayah sumatra, terutama belahan utara, relatif aman. Namun, jika terjadi suatu kondisi yang lebih berat dari biasanya (misalnya intensitas hujan lebih tinggi) akan berdampak lebih fatal,
Sekarang mungkin pembahasan lebih berfokus, pada satu willayah. Sebuah kota terpencil yang dikelilingi medan ekstrem, yang geografisnya hampir serupa dengan kota pimpinan saya di Transport Fever 2. Sebenarnya, kota Sibolga ini merupakan lokasi yang "Sempurna", terutama untuk perdagangan laut, karena terletak di sebuah teluk. Pesisir barat sumatera sangat susah untuk dibangun pelabuhan besar karena ombak dari samudera hindia, sama kasusnya seperti pesisir selatan pulau jawa yang dimana kota pelabuhan besar mungkin hanya Cilacap dan Pangandaran/Pelabuhanratu, namun berbeda dengan pesisir barat sumatra yang lebih panjang dan memiliki lebih banyak pelabuhan, juga karena beberapa bagian sumatra pesisir barat ditutupi kepulauan Mentawai yang berfungsi sebagai pelindung ombak alami.
Hal tersebut sangat mirip dengan kondisi geografis kota fiksi "Muareta" buatan saya ini. Namun, biasanya jika kondisi daerahnya seperti sebelumnya, sebagian besar letaknya pasti dipinggir tebing-tebing perbukitan yang terjal, dengan kondisi geografisnya yang ekstrem. Kondisi seperti diatas sangat memungkinkan dapat terjadi bencana-bencana alam terduga, misalnya tanah longsor yang marak terjadi, kecuali daerahnya sudah diproteksi oleh perlindungan yang mumpuni.
Selain itu, wilayah seperti kota "Muareta' dan kota Sibolga sangat rawan terjadi banjir besar jika curah hujan tinggi, ditambah dengan dampak dari siklon tropis tak terduga seperti sebelumnya. Geografis seperti kota sibolga biasanya merupakan daratan muara sungai-sungai dari kawasan pegunungan disekitarnya, yang walaupun alirannya kecil, jika terjadi hujan lebat akan fatal bagi kota dibawahnya.
Dan, apabila sudah terjadi bencana besar seperti yang baru ini, otomatis kota Sibolga akan terkepung hampir di segala arah. Saat ini, kondisi kota Sibolga terkepung oleh longsor di sisi utara kota (Batu Lubang), Dan di tumur + barat kota. Satu-satunya sumber bantuan yang memungkinkan hanyalah melewati jalur Laut, alias menggunakan kapal laut. Masalahnya, pelabuhan Sibolga sepertinya sulit untuk menerima kapal-kapal besar, karena teluknya yang sempit.
Pada akhirnya, para korban harus tetap sabar menunggu pertolongan dari pemerintah pusat. Dan hendaknya pemerintah segala mengarahkan bantuan yang memadai dan secepatnya, serta merata dan menyeluruh kepada seluruh korban yang terdampak. Dan dapat segera memperbaiki infrastruktur, jalan nasional penghubung antarkota, sehingga mobilitas bantuan lebih cepat tiba dan semakin cepat dalam "menyembuhkan" luka dalam hati korban terdampak langsung.
Jumat, 17 Oktober 2025
Pantura Problems
A. Latar Belakang
Pesisir utara jawa merupakan kawasan yang sangat penting
bagi perkembangan pulau jawa. Mulai dari awal perkembangan manusia, pada era
manusia purba, banyak dari mereka yang bertumbuh di kawasan pesisir utara jawa
(dulu masih dalam bentuk Sundaland. Banyak bukti bukti petunjuk dari keberadaan
manusia purba di pesisir utara, beberapa contohnya seperti penemuan kerangka
dari manusia purba di Banten dan Gresik, Jawa Timur. Mereka berkembang di utara
jawa mungkin disebabkan oleh melimpahnya sumber panganan yang ada dulu, karena
masih terdapat Sundaland. Para manusia purba tersebut kemudian kemungkinan
berpindah ke bagian tengah pulau jawa, beberapa contohnya yaitu seperti di
Sragen dan Ngawi.
Beranjak dari masa manusia purba, memasuki era kerajaan
kerajaan. Pada awalnya, tidak terlalu banyak catatan yang mencatat keberadaan
kerajaan di pesisir utara pulau Jawa. Itu bisa dipahami karena masyarakat
Nusantara pada saat masa itu tidak memiliki budaya tulis menulis, mencatat
kegiatan yang mereka lakukan. Masyarakat pesisir utara pada era Kerajaan awal
lebih berfokus pada pelayaran dan perdagangan saja, tanpa menulis ataupun
mencatat apapun dari itu.
Masyarakat pesisir utara mulai terbaca keberadaannya dimulai
dari masa kerajaan-kerajaan islam Nusantara yang banyak terletak di pesisir
utara. Asalnya, para pedagang yang beragama islam yang berasal dari berbagai
penjuru dunia, misalnya timur tengah dan tiongkok, datang ke Nusantara
bertujuan untuk berdagang dan menyebarkan ajaran agama baru bagi penduduk
Nusantara, yaitu Islam. Mereka, para pedagang muslim, tiba di Nusantara pertama
kali di Aceh dan berdagang di sana. Kemudian mereka juga tiba di pulau Jawa,
tepatnya di pesisir utara. Mereka menetap di sana dan kemudian berdagang dan
menyebarkan agama Islam.
Singkat cerita, berdiri banyak kerajaan Islam di pesisir
utara pulau Jawa. Dengan adanya banyak kerajaan di pesisir utara, maka ikut
berkembang juga pemukiman dan peradaban di pesisir utara itu. Mereka membangun
peradaban di pesisir utara jawa yang bertujuan agar lebih dekat dengan pasar,
pelabuhan, dan pusat pemerintahan saat itu. Peradaban di pesisir utara jawa
berkembang dengan sangat cepat, dan sehingga pada suatu waktu, dapat
mengalahkan kecepatan pertumbuhan peradaban yang terletak di bagian tengah pulau
jawa, seiring dengan menurunnya pamor dan pengaruh dari kerajaan Majapahit di
bagian tengah pulau jawa.
Perlahan-lahan, pusat peradaban pulau jawa berpindah dari
bagian tengah menjadi ke pesisir utara jawa. Dan kepercayaan mayoritas
Nusantara berubah menjadi Islam.
Kemudian, saat pemerintah kolonial masuk, pengaruh kerajaan
pesisir utara jawa sedikit menurun akibat dari kebijakan dari kolonial . Namun,
pusat pemerintahan kolonial belanda berada di Batavia, yang juga terletak di
pesisir utara Jawa. Pemerintah kolonial Hindia Belanda merancang kota Batavia
menjadi seperti “Amsterdam”.
Batavia awalnya merupakan daerah rawa sehingga sangat mudah
untuk terjadi Banjir, sehingga Belanda membangun banyak kanal-kanal untuk
mencegah terjadinya banjir dan untuk transportasi.
Setelah Indonesia “Memerdekakan Diri”, banyak fasilitas atau
peninggalan kolonial belanda yang ditinggalkan begitu saja. Kanal kanal
ditinggalkan, dan mulai tumbuh pemukiman-pemukiman yang tidak terkendali.
Masyarakat Batavia (Berubah menjadi Jakarta) mulai membangun rumah-rumah liar,
dan kemudian mengambil air tanah untuk sebagai sumber air. Mereka tidak
memperdulikan ataupun memperhatikan dampak jangka panjang bagi masa depan
mereka sendiri.
B. Analisis Masalah & Pembahasan
1. Pemukiman Liar
Permukiman liar sudah menjadi masalah yang mendarah daging
di Indonesia, bahkan sejak era kolonial Hindia Belanda. Pemukim liar sudah
mulai tumbuh saat era kolonial terutama di kota-kota pelabuhan seperti Batavia,
Surabaya, Semarang, atau Medan.
Pemerintah kolonial pada saat itu gencar membangun kawasan
“Kota Modern” untuk orang orang pendatang dari Eropa, dengan sanitasi yang baik
dan jalan yang bagus dan lebar. Sedangkan, pribumi banyak yang membangun
rumah-rumah liar di pinggiran kota tanpa izin yang resmi. Namun, pemerintah
kolonial tidak mengambil pusing hal ini. Mereka tidak fokus untuk memberantas
pemukiman liar, hanya menjaga agar tidak mengganggu kawasan Eropa. Hal ini yang
akan mempengaruhi mental rakyat Nusantara nantinya.
Setelah perginya Belanda dan Jepang, pada masa awal
kemerdekaan, terjadi urbanisasi. Banyak penduduk dari desa yang berpindah ke
kota, sehingga memunculkan kampung kota dan hunian liar di lahan milik negara,
dan di bantaran rel kereta api/sungai. Karena pada dasarnya memang SDM
masyarakat Indonesia kala itu masih peninggalan belanda dan masih bermental
“Maling”. Sayangnya, pemerintah RI pada saat itu lebih sibuk dengan masalah
politik dan ekonomi untuk negara yang masih sangat muda ini, sehingga belum ada
kebijakan langsung dari pemerintah terkait hal pemukiman liar yang semakin
padat.
Pada masa Orde Baru, urbanisasi semakin pesat. Pemukiman
liar makin meluas di hampir seluruh kota besar, seperti Jakarta, Bandung,
Medan, Surabaya, Dan masih banyak lagi. Pada awal Orde Baru, banyak penertiban
dan penggusuran kawasan kumuh, terutama di Jakarta oleh Gubernur Ali Sadikin.
Di masa ini, pemerintah berfokus pada citra kota modern dan proyek-proyek
besar, seperti monumen, jalan raya, dan hotel. Indonesia juga membuat program Kampung
Improvement Program (KIP). Bekerja sama dengan Bank Dunia, alih-alih
menggusur, pemerintah memperbaiki kampung liar dengan infrastruktur dasar
(jalan, air, listrik, sanitasi). Pada akhir Orde Baru, lebih banyak proyek
Perumnas, tapi tetap terjadi penggusuran di lahan strategis untuk pembangunan
industri. Pada saat Reformasi, semua menjadi sedikit lebih baik dengan
pendekatan yang lebih manusiawi, berbasis masyarakat, meski penggusuran tetap
terjadi.
Para pemukim liar membangun rumah di atas tanah timbul,
bantaran sungai, atau reklamasi liar, yang menyebabkan rentan terhadap banjir
rob dan abrasi. Karena status lahan yang ilegal, akses layanan publik seperti
drainase sering minim.
2. Faktor Alam
Hilangnya garis pantai karena ombak dan arus laut yang
menghantam daratan juga bisa mengkikis daratan. Penyebabnya karena mangrove,
sebagai pelindung alami, ditebang untuk dijadikan tambak atau lahan pemukiman,
sehingga garis pantai tidak terlindungi. Ini menyebabkan garis pantai mundur
hingga ratusan meter seperti di Demak, Sayung, Pekalongan, Subang, Indramayu.
Hilangnya hutan mangrove menyebabkan kerusakan ekosistem karena hilangnya
penahan abrasi dan perangkap sedimen.
Kenaikan muka air laut juga turut berpartisipasi dalam
mengikis pesisir utara Jawa. Disebabkan oleh Perubahan Iklim Global, laju
kenaikan air laut menjadi kurang lebih 3-5 mm/tahun dapat
memperparah kondisi banjir rob yang sudah parah sekarang. Jika ini
dikombinasikan dengan penurunan tanah tadi, dampaknya menjadi jauh lebih cepat
dan berbahaya.
3. Faktor Manusia
Kota-kota pesisir utara Jawa, misalnya Jakarta, Semarang,
dan Demak, mengalami penurunan muka tanah hingga 10-20 cm per tahun. Hal ini
dapat disebabkan oleh penyedotan air tanah secara berlebihan, beban bangunan
berat, dan padatnya pemukiman/industri. Ini menyebabkan daratan lebih rendah
dari laut dan membuatnya mudah tergenang air rob dan semakin terkikis jika
tidak ada solusi.
Lalu ada Reklamasi dan Alih Fungsi Lahan Pesisir.
Pembangunan pelabuhan, industri, kawasan wisata, dan perumahan di pesisir
dengan membuat reklamasi dapat mengubah arus laut alami. Reklamasi di suatu
wilayah seringkali membuat wilayah lain terkena abrasi yang lebih parah.
Tata ruang yang buruk dikombinasikan dengan permukiman liar
di pesisir laut juga turut menjadi alasan. Banyaknya kampung nelayan dan
permukiman liar bersiri di atas tanah timbul atau bantaran sungai. Karena juga
tidak ada infrastruktur pelindung seperti tanggul dan drainase, kawasan seperti
ini akan menjadi yang paling cepat terkikis.
Infrastruktur yang beradadi pesisir juga banyak yang kurang
modern dan bahkan ada yang tidak terawat. Tanggul laut banyak yang jebol atau
tidak cukup tinggi untuk menahan air laut. Normalisasi sungai juga masih belum
maksimal. Sedimen dan banjir akan memperparah kerusakan pesisir pantai utara
pulau Jawa.
C. Dampak dan Pengaruhnya
1. Dampak Buruknya Tata Letak Permukiman di Pesisir Utara Jawa
a. Lingkungan Permukiman liar di bantaran sungai dan pesisir dapat menutup saluran air, dan kemudian akan memperparah dampak banjir. Penebangan mangrove untuk tambak/rumah yang membuat hilangnya pelindung alami dari abrasi. Dan sampah dan limbah domestik dapat mencemari laut dan merusak ekosistem pesisir.
c. Ekonomi Lokasi yang tidak strategis (rawan banjir & abrasi) akan menurunkan nilai tanah. Warga miskin juga akan sulit berkembang karena kehilangan rumah/akses ke laut untuk melaut. Biaya perbaikan infrastrukturnya juga pasti akan lebih mahal karena wilayah sulit ditata ulang.
2.
Dampak Banjir Rob di Kawasan Pesisir Utara Jawa
Banjir rob (air laut pasang yang masuk ke daratan) makin
sering dan parah karena abrasi + penurunan tanah. Dampaknya:
a. Lingkungan
Tanah menjadi salin (asin) menjadi tidak bisa ditanami, sawah gagal panen (contoh: Demak, Pekalongan). Infrastruktur (jalan, jembatan, rumah) rusak permanen karena terendam air asin. Ekosistem pesisir (tambak, mangrove) terganggu.
b. Sosial
Rumah warga rusak atau tenggelam yang mengakibatkan ribuan orang terpaksa pindah (climate refugees lokal). Hal tersebut membuat anak-anak sulit sekolah karena akses jalan tergenang. Menimbulkan stres sosial & konflik lahan (antara warga, pemerintah, dan pengembang).
c. Ekonomi
Nelayan sulit beraktivitas karena perahu tidak bisa sandar di daratan yang terendam. Industri dan pelabuhan terganggu, menjadikan distribusi barang dan ekonomi daerah melemah. Biaya pembangunan tanggul & relokasi warga sangat besar (misalnya di Semarang dan Jakarta Utara).
D. Solusi
Pihak pemerintah, dalam beberapa waktu terakhir tengah
menyiapkan strategi dan solusi nasional bagi kawasan pantai utara, dengan
membentuk Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa. Dengan bantuan tambahan dari
Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Badan Otorita ini diproyeksikan akan menggarap
megaproyek nasional, proyek Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall.
Lokasi yang tidak strategis (rawan banjir & abrasi) akan
menurunkan nilai tanah. Warga miskin juga akan sulit berkembang karena
kehilangan rumah/akses ke laut untuk melaut. Biaya perbaikan infrastrukturnya
juga pasti akan lebih mahal karena wilayah sulit ditata ulang.
Hilangnya garis pantai karena ombak dan arus laut yang
menghantam daratan juga bisa mengkikis daratan. Penyebabnya karena mangrove,
sebagai pelindung alami, ditebang untuk dijadikan tambak atau lahan pemukiman,
sehingga garis pantai tidak terlindungi. Ini menyebabkan garis pantai mundur
hingga ratusan meter seperti di Demak, Sayung, Pekalongan, Subang, Indramayu.
Hilangnya hutan mangrove menyebabkan kerusakan ekosistem karena hilangnya
penahan abrasi dan perangkap sedimen.
Kamis, 11 Maret 2021
Introduction
Hmm.. mulai dari mana, ya? Aslinya ini tulisan dah dari sd dulu, tapi.. ah.. lupakan
Morning all.. my name is Nurhan Hadrian Ahmad, everyone usually call me Nurhan or Rembo(?) (agak kaget jir dipanggil rembo gara gara nick ml akun kecil, ngapain pula ya dulu kepikiran :v), dan saya lahir pada tanggal 9 Juni tahun 2009 (terlalu muda buat angkatanku) di sebuah Kabupaten di Jatim, yap Jombang. Saya anak ke-3 dari tiga bersaudara.
Sejak kecil, saya tumbuh di lingkungan yang sederhana dan menyenangkan. Autobiografi ini saya tulis sebagai bentuk refleksi atas perjalanan hidup saya, baik suka maupun duka, serta sebagai penghargaan saya dan juga untuk mengenang pengalaman-pengalaman yang telah membentuk saya sampai seperti sekarang ini (gatau besok :v).
Saya berasal dari keluarga yang.. biasa banget lah, ga lebih, cukup. Ayah saya merupakan anak dari keluarga yang hidup sederhana di desa terpencil yang berada di lereng gunung Semeru, Lumajang. Beliau merupakan pekerja keras yang gigih dan berani untuk mencarikan nafkah bagi keluarga saya, mulai dari pengawas proyek hingga menjadi asn. Sedangkan ibu saya merupakan bagian dari keluarga yang hidup di pusat kota Jombang. Kedua orang tua saya memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk nilai-nilai kehidupan saya.
Saya memiliki dua saudara, yaitu kedua kakak saya yang saling mendukung saya. Hubungan kami cukup erat dan saling mendukung satu sama lain. Masa kecil kami diwarnai dengan banyak kenangan, mulai dari bermain bersama, belajar bersama, diajarkan menjadi the kop (diajarin bapak) dan menghina EMYU. Saya juga sangat suka dengan perkeretaapian (railfanning) mungkin karena rumah saya deket rel dan sering diajak orang tua buat liat kereta di stasiun, karena itu juga saya suka dunia fotografi. Saya juga suka nulis-nulis (seperti ini).
Pendidikan saya dimulai dari jenjang
Taman Kanak-Kanak (TK) di TK Ar-Rahman Jombang, lalu melanjutkan ke Sekolah
Dasar di SDIT Al-Ummah Jombang. Tidak banyak hal yang saya ingat saat masa TK.
Memasuki masa SD, sangat banyak pengalaman yang menarik di masa sekolah dasar ini, masa SD merupakan masa paling menyenangkan dengan rasa keingintahuan segalanya yang sangat besar, mungkin bumi tidak mampu untuk menyimpannya. Di masa SD, saya mulai menunjukkan ketertarikan pada beberapa mata pelajaran dan bidang seperti Sejarah, Sepakbola, Bahasa, dan beberapa mata pelajaran yang saya pelajari. Selain aktif belajar, saya juga cukup banyak memiliki banyak teman pada masa ini.
Pada saat sd kemarin, ada cerita saat saya sedang asik bermain dengan teman tetangga sebelah, saya sangat bersemangat saat itu karena salah satu teman saya baru pulang dari mudiknya. Saking semangatnya, saat kami sedang bermain bola bersama teman yang lainnya, saya tidak sengaja menendang kaki teman saya sampai kesakitan (pas kena tulang rawannya), saya pun panik. Untung saat itu saya pelan, dan dia hanya kesakitan ringan (kayaknya :v). Tapi yang lebih aneh, saat itu saya memakai jersey real madrid garet bale (pastinya kw yak) dan temen saya pake jersey liverpool (sama kw-nya). Dan itu bertepatan sehari setelah final ucl 2018, dan pemain yang kupake jersinya (bale) brace saat itu. Berminggu berlalu dan dia pindah rumah ke ngawi :( dan tidak akan bisa mengajak rematch saya lagi.
Satu lagi yang mumpung masih saya ingat, pada saat masih TK kayaknya. saya menyebrangi rel kereta depan pasar pon, mau nyebrang ke rumah temen. Galiat ada kereta mau berhenti di stasiun (seingatku sarangan ekspress soalya full bisnis), untungnya keretanya mau berhenti di stasiun, jadinya lambat dan saya masih sempet lari.
Terima kasih telah meluangkan waktu
untuk membaca autobiografi yang tidak penting ini. Semoga bisa menjadi inspirasi (ga mungkin :v) atau sekadar
pengenalan singkat tentang siapa saya.
Pekanbaru Death Railway UNFINISHED
Geopark Silokek, mungkin banyak yang mengenal nama tempat itu. Seperti yang kita tau, di balik tempat yang indah ini juga terdapat jalur ker...
-
A. Latar Belakang Pesisir utara jawa merupakan kawasan yang sangat penting bagi perkembangan pulau jawa. Mulai dari awal perkembanga...
-
Mental Pribumi, alias "Inlander Mentality" Yang masih tertancap rapi di dalam hati masyarakat kita. Stop Membandingkan "Sampa...
-
Hmm.. mulai dari mana, ya? Aslinya ini tulisan dah dari sd dulu, tapi.. ah.. lupakan Morning all.. my name is Nurhan Hadrian Ahmad, everyone...

