Selasa, 10 Februari 2026

Pekanbaru Death Railway UNFINISHED

Geopark Silokek, mungkin banyak yang mengenal nama tempat itu. Seperti yang kita tau, di balik tempat yang indah ini juga terdapat jalur kereta api yang berdampingan di tepi sungai Indragiri. Jalur yang memakan banyak sekali korban jiwa ini ternyata tidak "semudah" di pikiran kita, ada banyak perhitungan dan perencanaan yang sudah ada sejak lama, namun dalam eksekusi nya tampak sangat buruk dan hasilnya pun tidak berdampak positif apa pun, bahkan condong sangat merugikan.

Jepang menginvasi Sumatra pada tahun 1942, dan menggunakan para insinyur dari Kereta Api Burma Thailand yang terkenal, menempatkan lebih dari 120.000 budak yang baru ditangkap untuk bekerja membangun kereta api. Budak-budak ini bukan hanya orang Indonesia lokal, tetapi juga POW yang ditangkap ketika koloni timur jatuh. Jalur yang awalnya direncanakan dibangun untuk membantu perekonomian kekaisarann jepang ini justru secara perlahan "membunuh" kekaisaran jepang akibat banyaknya tekanan internasional dan perekonomian yang semakin memburuk akibat perang yang sedang berlangsung saat itu. Jepang saat membangun jalur kereta ini juga seperti berlawanan dengan apa yang diharapkan belanda saat ingin membangun jalur ini, dan lebih memilih jalur mudah dan murah, yaitu melewati lembah silokek yang curam dan terjal, serta rawan luapan sungai indragiri yang mengalir deras di sampingnya.


I.I. Hindia Belanda

Pemerintah Hindia Belanda sudah pernah melakukan dan menyelidiki kemungkinan terhadap konektivitas pantai barat sumatera dengan pantai barat sumatera. Jalur yang direncanakan dan diperkirakan akan membantu perekonomian dan mobilitas hindia belanda di sumatera. Salah satunya adalah terbukanya akses pertambangan batubara ke pelabuhan penting di sumatera. Jalur ini direncanakan untuk melanjutkan rel yang sudah ada dari stasiun muaro. 


Peta W. H. de Greve (1870) credit https://id.pekanbarudeathrailway.com/muaro-to-pekanbaru

Surveyor Belanda, W. H. de Greve (1870) memimpin ekspedisi yang menembus lembah silokek dengan hutannya yang masih lebat kala itu, dan kemudian merancang rencana jalur yang paling aman dan memungkinkan, serta mengutamakan keamanan. de Greve merencanakan jalur kereta di selatan sungai Indragiri dari Muaro hingga mencapai tebing ngarai yang terlihat sulit ditembus,  yang kemudian akan memasuki sebuah terowongan, beberapa ratus meter dan keluar terowongan di tebing terjal tersempit di jurang. Kemudian selanjutnya akan dibangun jembatan melintasi sungai indragiri dan akan memasuki ke sebuah terowongan lagi di sisi utara sungai sebelum muncul lebih jauh ke timur di mana kereta api dapat mengikuti kontur tanah di samping sungai.

Jalur berhenti di Padang Tarok di mana sumber daya bisa dimuat ke kapal, yang kemudian akan mengangkut barang menuju Tembilahan di mana dapat dimuat ke kapal pengangkut laut. Rencana ini dianggap sebagai hal mustahil bagi Belanda, sehingga tidak berhasil direalisasikan.


Peta rencana Kereta Api Sumatra (1925) credit https://id.pekanbarudeathrailway.com/muaro-to-pekanbaru

Waktu berlalu, muncullah nama Hans Caspar Bluntschli, merupakan seorang pengusaha asal swiss yang pada tahun 1906 pertama kali menyampaikan gagasan mengenai pembangunan jalur kereta api menuju pekanbaru yang pada masa itu masih dikenal dengan nama pakan baroe. Ide tersebut ia sampaikan melalui sebuah surat yang ditujukan kepada pemerintah kolonial belanda. Dalam surat itu, bluntschli tidak hanya membahas jalur kereta api, tetapi juga mengusulkan agar jalur tersebut terlebih dahulu diperpanjang hingga ke wilayah konsesi tambang batubara di muara lembu. Tujuannya agar ia dapat segera memulai kegiatan penambangan batubara di daerah tersebut.

Namun, gagasan tersebut tidak mendapat tanggapan serius dari pemerintah Belanda. Hal ini disebabkan oleh adanya ketidakpercayaan terhadap bluntschli yang dikenal sebagai sosok dengan ide-ide besar dan ambisius. Selain itu, pada masa itu terdapat berbagai permasalahan lain yang turut menghambat realisasi rencana tersebut, seperti kondisi ekonomi dunia yang sedang mengalami depresi besar, ancaman dari beberapa kelompok suku di wilayah pedalaman, serta medan alam yang keras dan berbahaya bagi para pekerja. Oleh karena itu, rencana pembangunan kereta api tersebut akhirnya ditunda dan tidak segera dilaksanakan.

Beberapa tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1920, dilakukan ekspedisi survei lanjutan oleh W.J.M. Nivel. Survei ini bertujuan untuk meninjau kembali kemungkinan pembangunan jalur kereta api di wilayah sumatra bagian tengah. Dalam perencanaannya, jalur kereta api dirancang untuk diperluas hingga mencapai tembilahan di pantai timur sumatra. Rencana ini kemudian dituangkan dalam sebuah peta jalur usulan yang diproduksi pada tahun 1925. Selain itu, survei tanah juga dilakukan ke arah pekanbaru guna mengidentifikasi potensi sumber daya alam serta menentukan kemungkinan rute kereta api dan jalan yang dapat dibangun di masa mendatang.

Apabila jalur kereta api menuju tembilahan benar-benar dibangun, maka proyek tersebut sebenarnya cukup masuk akal dari segi ekonomi. Jalur ini direncanakan mengikuti wilayah tanah yang relatif baik di sepanjang sungai indragiri atau kuantan yang memiliki aliran lebar, dalam, dan mudah dilalui oleh kapal-kapal besar terutama di bagian muaranya. Dengan kondisi tersebut, hasil-hasil alam dari pedalaman yang kaya sumber daya seperti batubara dan karet dapat dengan mudah diangkut melalui jalur sungai dan kereta api. Selanjutnya, hasil-hasil tersebut dapat dikirim ke wilayah perdagangan penting seperti singapura atau jawa hanya dalam waktu beberapa hari, sehingga mendukung kegiatan ekonomi dan perdagangan pada masa itu.

I.II. Kekaisaran Jepang 

Pada tahun 1942, pasukan Jepang dari pulau jawa telah tiba di sumatra. Dan jepang berusaha agar menyambungkan sumber daya alam sumatra, terutama batubara dan karet yang pada saat itu dibutuhkan Jepang pasca peperangan midway pada pertengahan tahun 1942, dan kebutuhan perang lainnya. Jepang pun membuka kembali proyek ambisius yang sebelumnya pernah dicanangkan oleh Hindia Belanda. 

Peta Rancangan Awal Jepang (1942)
source: https://www.riaumagz.com/2018/03/26-lokasi-bersejarah-di-kota-pekanbaru.html

Jepang membuat rencana untuk membangun jalur kereta sepanjang 220 km dari Muaro sampai ke Pekanbaru, mengandalkan rancangan dari beberapa tokoh sebelumnya seperti de Greve, Bluntschili, dan W.J.M. Nivel, mereka mengekspedisi dan mengeksplor trase yang disebut sebelumnya, dan beberapa survei tambahan yang dilakukan oleh Jepang sendiri.

Setelah pekerjaan itu selesai, diharapkan dapat memudahkan Jepang untuk kebutuhan perang nya, seperti memindahkan pasukan nya diantara pantai dengan pantai secara lebih mudah, selain itu juga dapat mendekatkan mereka ke pusat sumber daya alam di pedalaman sumatera. Kereta api ini juga akan menghindarkan jepang dari patroli-patroli darat dan laut yang gencar dilakukan pada saat itu.

Pekanbaru dipilih oleh Jepang sebagai ujung dari jalur kereta salah satunya dikarenakan letaknya yang berada di tepian sungai siak, yang memudahkan Jepang untuk memasukkan kapal kapal, baik kecil maupun besar, untuk dapat berlabuh di dekat emplasemen kereta api, yang kemudian dapat menuju selat malaka dengan relatif cepat. Emplasemen Pekanbaru juga membuka opsi menggunakan dukungan dari udara karena dekat dengan landasan udara, berbeda jika rute dilanjut sampai ke Tembilahan seperti yang diharapkan sebelumnya. Batubara yang nantinya ditambang oleh Romusha dan POW dan kemudian diantar ke Pekanbaru, akhirnya akan menggunakan rute ke Pekanbaru ini.



TO BE CONTINUED :)))))


Senin, 08 Desember 2025

Mental Pribumi

Mental Pribumi, alias "Inlander Mentality" Yang masih tertancap rapi di dalam hati masyarakat kita.


Stop Membandingkan "Sampah" Kita dengan "Emas" Tetangga. Sindrom "Rumput Tetangga Lebih Hijau" tidak hanya menyerang warga perumahan, tp juga di lingkungan negara. Sering kita dapati netizen cenderung membandingkan kekurangan Indonesia dgn kelebihan terbaik negara lain.


Kenyataan sebenarnya tidak selalu demikian. Ada aspek di mana kritik netizen benar, tapi banyak juga aspek di mana Indonesia sebenarnya melakukan pekerjaan yang luar biasa yang terkadang justru lebih baik dari negara maju, namun luput dari sorotan.


Pertama, perbandingan tidak apple-to-apple. Ketika banjir, netizen membandingkan Jakarta dengan kanal canggih di Belanda atau Jepang. Mereka jarang membandingkan dengan banjir di New York atau Dubai (yang juga lumpuh total saat hujan ekstrem). Contoh lain, netizen membandingkan antrean BPJS dengan layanan kesehatan privat di Singapura. Padahal, jika dibandingkan dengan sistem kesehatan di Amerika Serikat (yang sangat mahal dan tidak menanggung semua orang), BPJS sebenarnya adalah salah satu sistem single-payer terbesar dan terluas di dunia.


Kedua, tantangan geografis dan demografis yang berbeda. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan 270 juta penduduk. Mengirim bantuan bencana di Indonesia melibatkan kapal, pesawat, dan truk menembus hutan/laut. Membandingkan kecepatan penanganan bencana di Indonesia dengan negara kontinental (daratan menyatu) atau negara kota seperti Singapura (yang kecil dan infrastrukturnya merata) tentu tidak adil.


Dan yg terpenting, seringkali netizen melupakan kelebihan unik Indonesia yang justru dikagumi negara luar. Ya, misal gotong royong. Dalam penanganan bencana, masyarakat sipil Indonesia bergerak sangat cepat. Seringkali dapur umum warga dan donasi terkumpul sebelum bantuan pemerintah sampai. Di banyak negara barat yang individualis, warga cenderung pasif menunggu aparat.


Tentu saja, tidak bisa dipungkiri ada aspek di mana pemerintah kita memang perlu berbenah, dan inilah yang memicu frustrasi netizen. Utamanya masalah birokrasi & koordinasi. Sering terjadi tumpang tindih kebijakan antar lembaga. Efeknya membuat respon terlihat lambat dan berantakan.


Jadi, apakah Indonesia "selalu kalah jauh"? Jawabannya Tidak.

Netizen seringkali melihat "hasil akhir" negara maju yang sudah mapan ratusan tahun, sementara Indonesia masih dalam tahap membangun sistem yang solid. Kritik itu perlu sebagai kontrol sosial, tapi membenci diri/bangsa sendiri secara berlebihan seringkali menutup mata kita dari kemajuan yang sudah dicapai.

Kritis itu boleh, asal tidak memupuskan harapan.

Sabtu, 29 November 2025

Sumatra

Kita mulai dari mana, ya?

Hmm...


Pertama.. saya turut berduka cita atas tragedi bencana besar beberapa hari lalu, yang terjadi bahkan di 3 provinsi sekaligus. Bencana itu tidak bisa dihindarkan, namun sudah terprediksi. Banyak yang masih belum memahami bahwa bencana ini, bukan hanya disebabkan oleh "kerusakan alam", karena terdapat siklon tropis yang diberi nama "Senyar". Sebelumnya, siklon tropis sejenis memang sangatlah sangat jarang melintasi wilayah dibawah garis khatulistiwa, karena terdapat perbedaan arah angin, alias angin belahan bumi utara dan selatan bertolak belakang. Makanya, antisipasi dari bencana ini masih terbilang sangat "minim" alias sebagian besar warga setempat masih menganggap remeh, walaupun juga beberapa warga mengetahui hal ini, dan akibatnya, sangat fatal bagi mereka sendiri. 

Seperti apa yang dikatakan Bapak Presiden, bahwa sangat penting untuk pendidikan penanggulangan bencana alam, tidak sekedar sosialisasi dari dinas terkait misalnya pemadam kebakaran lokal. Sangat teledor bagi kita yang hidup berdampingan dengan ancaman nyata dari alam mengabaikan indikator berbahaya dari alam sekitar kita, dan tetap bersikap tenang begitu saja. Masih inget gempa+tsunami palu? masih inget gempa jogja dan pantai selatan + erupsi merapi?? tau karhutla serentak sumatra-kalimantan?? itu semua cakupannya juga luas, tapi semua bisa tertangani karena kita lebih terbiasa menghadapinya, ditambah juga tidak seluas jika dibandingkan dengan yang baru baru ini. Bandingin juga sama negara negara asean lain, yg lebih sering terkena dampak siklon tropis, bahkan bisa sangat parah, daripada indonesia yang "relatif aman". Karena negara-negara seperti Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, Dan lainnya, lebih "mengenal" karakteristik dari bencana akibat siklon tropis dan lebih memiliki pengalaman dibanding kita, karena mereka lebih sering terkena siklon tropis, dibanding kita.

Nah saat hujan tiba mereka (kita) masih menganggap "Wah hujan biasa sih ini", ga lama makin deres dan ga selesai-selesai, mereka panik dan akhirnya baru tersadarkan akan suatu hal, yang lebih besar dari banjir dan longsor. Ditambah suatu persoalan yang sangat besar, rahasia umum yang masih saja berusaha disembunyikan oleh pejabat lokal sini, padahal semuanya tau. Yap, hal hal kayak tambang, pembukaan lahan sawit, pembangunan infrastruktur yang tidak dilengkapi alat dan materi pendukung (irigasi dan penahan). 

Sebenarnya saya pernah memprediksi, bahwa wilayah sumatra, terutama belahan utara, relatif aman. Namun, jika terjadi suatu kondisi yang lebih berat dari biasanya (misalnya intensitas hujan lebih tinggi) akan berdampak lebih fatal,

Sekarang mungkin pembahasan lebih berfokus, pada satu willayah. Sebuah kota terpencil yang dikelilingi medan ekstrem, yang geografisnya hampir serupa dengan kota pimpinan saya di Transport Fever 2. Sebenarnya, kota Sibolga ini merupakan lokasi yang "Sempurna", terutama untuk perdagangan laut, karena terletak di sebuah teluk. Pesisir barat sumatera sangat susah untuk dibangun pelabuhan besar karena ombak dari samudera hindia, sama kasusnya seperti pesisir selatan pulau jawa yang dimana kota pelabuhan besar mungkin hanya Cilacap dan Pangandaran/Pelabuhanratu, namun berbeda dengan pesisir barat sumatra yang lebih panjang dan memiliki lebih banyak pelabuhan, juga karena beberapa bagian sumatra pesisir barat ditutupi kepulauan Mentawai yang berfungsi sebagai pelindung ombak alami. 



Hal tersebut sangat mirip dengan kondisi geografis kota fiksi "Muareta" buatan saya ini. Namun, biasanya jika kondisi daerahnya seperti sebelumnya, sebagian besar letaknya pasti dipinggir tebing-tebing perbukitan yang terjal, dengan kondisi geografisnya yang ekstrem. Kondisi seperti diatas sangat memungkinkan dapat terjadi bencana-bencana alam terduga, misalnya tanah longsor yang marak terjadi, kecuali daerahnya sudah diproteksi oleh perlindungan yang mumpuni.

Selain itu, wilayah seperti kota "Muareta' dan kota Sibolga sangat rawan terjadi banjir besar jika curah hujan tinggi, ditambah dengan dampak dari siklon tropis tak terduga seperti sebelumnya. Geografis seperti kota sibolga biasanya merupakan daratan muara sungai-sungai dari kawasan pegunungan disekitarnya, yang walaupun alirannya kecil, jika terjadi hujan lebat akan fatal bagi kota dibawahnya.




Dan, apabila sudah terjadi bencana besar seperti yang baru ini, otomatis kota Sibolga akan terkepung hampir di segala arah. Saat ini, kondisi kota Sibolga terkepung oleh longsor di sisi utara kota (Batu Lubang), Dan di tumur + barat kota. Satu-satunya sumber bantuan yang memungkinkan hanyalah melewati jalur Laut, alias menggunakan kapal laut. Masalahnya, pelabuhan Sibolga sepertinya sulit untuk menerima kapal-kapal besar, karena teluknya yang sempit.

Pada akhirnya, para korban harus tetap sabar menunggu pertolongan dari pemerintah pusat. Dan hendaknya pemerintah segala mengarahkan bantuan yang memadai dan secepatnya, serta merata dan menyeluruh kepada seluruh korban yang terdampak. Dan dapat segera memperbaiki infrastruktur, jalan nasional penghubung antarkota, sehingga mobilitas bantuan lebih cepat tiba dan semakin cepat dalam "menyembuhkan" luka dalam hati korban terdampak langsung.


Jumat, 17 Oktober 2025

Pantura Problems

 

A.    Latar Belakang

Pesisir utara jawa merupakan kawasan yang sangat penting bagi perkembangan pulau jawa. Mulai dari awal perkembangan manusia, pada era manusia purba, banyak dari mereka yang bertumbuh di kawasan pesisir utara jawa (dulu masih dalam bentuk Sundaland. Banyak bukti bukti petunjuk dari keberadaan manusia purba di pesisir utara, beberapa contohnya seperti penemuan kerangka dari manusia purba di Banten dan Gresik, Jawa Timur. Mereka berkembang di utara jawa mungkin disebabkan oleh melimpahnya sumber panganan yang ada dulu, karena masih terdapat Sundaland. Para manusia purba tersebut kemudian kemungkinan berpindah ke bagian tengah pulau jawa, beberapa contohnya yaitu seperti di Sragen dan Ngawi.

Beranjak dari masa manusia purba, memasuki era kerajaan kerajaan. Pada awalnya, tidak terlalu banyak catatan yang mencatat keberadaan kerajaan di pesisir utara pulau Jawa. Itu bisa dipahami karena masyarakat Nusantara pada saat masa itu tidak memiliki budaya tulis menulis, mencatat kegiatan yang mereka lakukan. Masyarakat pesisir utara pada era Kerajaan awal lebih berfokus pada pelayaran dan perdagangan saja, tanpa menulis ataupun mencatat apapun dari itu.

Masyarakat pesisir utara mulai terbaca keberadaannya dimulai dari masa kerajaan-kerajaan islam Nusantara yang banyak terletak di pesisir utara. Asalnya, para pedagang yang beragama islam yang berasal dari berbagai penjuru dunia, misalnya timur tengah dan tiongkok, datang ke Nusantara bertujuan untuk berdagang dan menyebarkan ajaran agama baru bagi penduduk Nusantara, yaitu Islam. Mereka, para pedagang muslim, tiba di Nusantara pertama kali di Aceh dan berdagang di sana. Kemudian mereka juga tiba di pulau Jawa, tepatnya di pesisir utara. Mereka menetap di sana dan kemudian berdagang dan menyebarkan agama Islam.

Singkat cerita, berdiri banyak kerajaan Islam di pesisir utara pulau Jawa. Dengan adanya banyak kerajaan di pesisir utara, maka ikut berkembang juga pemukiman dan peradaban di pesisir utara itu. Mereka membangun peradaban di pesisir utara jawa yang bertujuan agar lebih dekat dengan pasar, pelabuhan, dan pusat pemerintahan saat itu. Peradaban di pesisir utara jawa berkembang dengan sangat cepat, dan sehingga pada suatu waktu, dapat mengalahkan kecepatan pertumbuhan peradaban yang terletak di bagian tengah pulau jawa, seiring dengan menurunnya pamor dan pengaruh dari kerajaan Majapahit di bagian tengah pulau jawa.

Perlahan-lahan, pusat peradaban pulau jawa berpindah dari bagian tengah menjadi ke pesisir utara jawa. Dan kepercayaan mayoritas Nusantara berubah menjadi Islam.

Kemudian, saat pemerintah kolonial masuk, pengaruh kerajaan pesisir utara jawa sedikit menurun akibat dari kebijakan dari kolonial . Namun, pusat pemerintahan kolonial belanda berada di Batavia, yang juga terletak di pesisir utara Jawa. Pemerintah kolonial Hindia Belanda merancang kota Batavia menjadi seperti “Amsterdam”.

Batavia awalnya merupakan daerah rawa sehingga sangat mudah untuk terjadi Banjir, sehingga Belanda membangun banyak kanal-kanal untuk mencegah terjadinya banjir dan untuk transportasi.

Setelah Indonesia “Memerdekakan Diri”, banyak fasilitas atau peninggalan kolonial belanda yang ditinggalkan begitu saja. Kanal kanal ditinggalkan, dan mulai tumbuh pemukiman-pemukiman yang tidak terkendali. Masyarakat Batavia (Berubah menjadi Jakarta) mulai membangun rumah-rumah liar, dan kemudian mengambil air tanah untuk sebagai sumber air. Mereka tidak memperdulikan ataupun memperhatikan dampak jangka panjang bagi masa depan mereka sendiri.

 

 

B.    Analisis Masalah & Pembahasan

 

1.      Pemukiman Liar

Permukiman liar sudah menjadi masalah yang mendarah daging di Indonesia, bahkan sejak era kolonial Hindia Belanda. Pemukim liar sudah mulai tumbuh saat era kolonial terutama di kota-kota pelabuhan seperti Batavia, Surabaya, Semarang, atau Medan.

Pemerintah kolonial pada saat itu gencar membangun kawasan “Kota Modern” untuk orang orang pendatang dari Eropa, dengan sanitasi yang baik dan jalan yang bagus dan lebar. Sedangkan, pribumi banyak yang membangun rumah-rumah liar di pinggiran kota tanpa izin yang resmi. Namun, pemerintah kolonial tidak mengambil pusing hal ini. Mereka tidak fokus untuk memberantas pemukiman liar, hanya menjaga agar tidak mengganggu kawasan Eropa. Hal ini yang akan mempengaruhi mental rakyat Nusantara nantinya.

 

Setelah perginya Belanda dan Jepang, pada masa awal kemerdekaan, terjadi urbanisasi. Banyak penduduk dari desa yang berpindah ke kota, sehingga memunculkan kampung kota dan hunian liar di lahan milik negara, dan di bantaran rel kereta api/sungai. Karena pada dasarnya memang SDM masyarakat Indonesia kala itu masih peninggalan belanda dan masih bermental “Maling”. Sayangnya, pemerintah RI pada saat itu lebih sibuk dengan masalah politik dan ekonomi untuk negara yang masih sangat muda ini, sehingga belum ada kebijakan langsung dari pemerintah terkait hal pemukiman liar yang semakin padat.

Pada masa Orde Baru, urbanisasi semakin pesat. Pemukiman liar makin meluas di hampir seluruh kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Dan masih banyak lagi. Pada awal Orde Baru, banyak penertiban dan penggusuran kawasan kumuh, terutama di Jakarta oleh Gubernur Ali Sadikin. Di masa ini, pemerintah berfokus pada citra kota modern dan proyek-proyek besar, seperti monumen, jalan raya, dan hotel. Indonesia juga membuat program Kampung Improvement Program (KIP). Bekerja sama dengan Bank Dunia, alih-alih menggusur, pemerintah memperbaiki kampung liar dengan infrastruktur dasar (jalan, air, listrik, sanitasi). Pada akhir Orde Baru, lebih banyak proyek Perumnas, tapi tetap terjadi penggusuran di lahan strategis untuk pembangunan industri. Pada saat Reformasi, semua menjadi sedikit lebih baik dengan pendekatan yang lebih manusiawi, berbasis masyarakat, meski penggusuran tetap terjadi.

Para pemukim liar membangun rumah di atas tanah timbul, bantaran sungai, atau reklamasi liar, yang menyebabkan rentan terhadap banjir rob dan abrasi. Karena status lahan yang ilegal, akses layanan publik seperti drainase sering minim.

 

2.      Faktor Alam

Hilangnya garis pantai karena ombak dan arus laut yang menghantam daratan juga bisa mengkikis daratan. Penyebabnya karena mangrove, sebagai pelindung alami, ditebang untuk dijadikan tambak atau lahan pemukiman, sehingga garis pantai tidak terlindungi. Ini menyebabkan garis pantai mundur hingga ratusan meter seperti di Demak, Sayung, Pekalongan, Subang, Indramayu. Hilangnya hutan mangrove menyebabkan kerusakan ekosistem karena hilangnya penahan abrasi dan perangkap sedimen.

Kenaikan muka air laut juga turut berpartisipasi dalam mengikis pesisir utara Jawa. Disebabkan oleh Perubahan Iklim Global, laju kenaikan air laut menjadi kurang lebih 3-5 mm/tahun dapat memperparah kondisi banjir rob yang sudah parah sekarang. Jika ini dikombinasikan dengan penurunan tanah tadi, dampaknya menjadi jauh lebih cepat dan berbahaya.

 

3.      Faktor Manusia

Kota-kota pesisir utara Jawa, misalnya Jakarta, Semarang, dan Demak, mengalami penurunan muka tanah hingga 10-20 cm per tahun. Hal ini dapat disebabkan oleh penyedotan air tanah secara berlebihan, beban bangunan berat, dan padatnya pemukiman/industri. Ini menyebabkan daratan lebih rendah dari laut dan membuatnya mudah tergenang air rob dan semakin terkikis jika tidak ada solusi.

Lalu ada Reklamasi dan Alih Fungsi Lahan Pesisir. Pembangunan pelabuhan, industri, kawasan wisata, dan perumahan di pesisir dengan membuat reklamasi dapat mengubah arus laut alami. Reklamasi di suatu wilayah seringkali membuat wilayah lain terkena abrasi yang lebih parah.

Tata ruang yang buruk dikombinasikan dengan permukiman liar di pesisir laut juga turut menjadi alasan. Banyaknya kampung nelayan dan permukiman liar bersiri di atas tanah timbul atau bantaran sungai. Karena juga tidak ada infrastruktur pelindung seperti tanggul dan drainase, kawasan seperti ini akan menjadi yang paling cepat terkikis.

Infrastruktur yang beradadi pesisir juga banyak yang kurang modern dan bahkan ada yang tidak terawat. Tanggul laut banyak yang jebol atau tidak cukup tinggi untuk menahan air laut. Normalisasi sungai juga masih belum maksimal. Sedimen dan banjir akan memperparah kerusakan pesisir pantai utara pulau Jawa.

 

C.    Dampak dan Pengaruhnya

 

1.      Dampak Buruknya Tata Letak Permukiman di Pesisir Utara Jawa

a. Lingkungan                                                                        Permukiman liar di bantaran sungai dan pesisir dapat menutup saluran air, dan kemudian akan memperparah dampak banjir. Penebangan mangrove untuk tambak/rumah yang membuat hilangnya pelindung alami dari abrasi. Dan sampah dan limbah domestik dapat mencemari laut dan merusak ekosistem pesisir.

 b. Sosial                                                                                  Kampung- kampung yang padat dan kumuh membuat penduduknya menjadi sulit mendapat akses air bersih, sanitasi, dan listrik. Mereka juga rentan terhadap penyakit berbasis lingkungan (diare, leptospirosis, DBD). Dampak lainnya juga sudah pasti akan sering jadi korban penggusuran atau relokasi karena status lahannya ilegal.

c. Ekonomi                                                                  Lokasi yang tidak strategis (rawan banjir & abrasi) akan menurunkan nilai tanah. Warga miskin juga akan sulit berkembang karena kehilangan rumah/akses ke laut untuk melaut. Biaya perbaikan infrastrukturnya juga pasti akan lebih mahal karena wilayah sulit ditata ulang.

 

2.      Dampak Banjir Rob di Kawasan Pesisir Utara Jawa

Banjir rob (air laut pasang yang masuk ke daratan) makin sering dan parah karena abrasi + penurunan tanah. Dampaknya:

a. Lingkungan

Tanah menjadi salin (asin) menjadi tidak bisa ditanami, sawah gagal panen (contoh: Demak, Pekalongan). Infrastruktur (jalan, jembatan, rumah) rusak permanen karena terendam air asin. Ekosistem pesisir (tambak, mangrove) terganggu.

b. Sosial

Rumah warga rusak atau tenggelam yang mengakibatkan ribuan orang terpaksa pindah (climate refugees lokal). Hal tersebut membuat anak-anak sulit sekolah karena akses jalan tergenang. Menimbulkan stres sosial & konflik lahan (antara warga, pemerintah, dan pengembang).

c. Ekonomi

Nelayan sulit beraktivitas karena perahu tidak bisa sandar di daratan yang terendam. Industri dan pelabuhan terganggu, menjadikan distribusi barang dan ekonomi daerah melemah. Biaya pembangunan tanggul & relokasi warga sangat besar (misalnya di Semarang dan Jakarta Utara).

 

D.   Solusi

Pihak pemerintah, dalam beberapa waktu terakhir tengah menyiapkan strategi dan solusi nasional bagi kawasan pantai utara, dengan membentuk Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa. Dengan bantuan tambahan dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Badan Otorita ini diproyeksikan akan menggarap megaproyek nasional, proyek Tanggul Laut Raksasa atau Giant Sea Wall.

Lokasi yang tidak strategis (rawan banjir & abrasi) akan menurunkan nilai tanah. Warga miskin juga akan sulit berkembang karena kehilangan rumah/akses ke laut untuk melaut. Biaya perbaikan infrastrukturnya juga pasti akan lebih mahal karena wilayah sulit ditata ulang.

Hilangnya garis pantai karena ombak dan arus laut yang menghantam daratan juga bisa mengkikis daratan. Penyebabnya karena mangrove, sebagai pelindung alami, ditebang untuk dijadikan tambak atau lahan pemukiman, sehingga garis pantai tidak terlindungi. Ini menyebabkan garis pantai mundur hingga ratusan meter seperti di Demak, Sayung, Pekalongan, Subang, Indramayu. Hilangnya hutan mangrove menyebabkan kerusakan ekosistem karena hilangnya penahan abrasi dan perangkap sedimen.

Kamis, 11 Maret 2021

Introduction

Hmm.. mulai dari mana, ya? Aslinya ini tulisan dah dari sd dulu, tapi.. ah.. lupakan

Morning all.. my name is Nurhan Hadrian Ahmad, everyone usually call me Nurhan or Rembo(?) (agak kaget jir dipanggil rembo gara gara nick ml akun kecil, ngapain pula ya dulu kepikiran :v), dan saya lahir pada tanggal 9 Juni tahun 2009 (terlalu muda buat angkatanku) di sebuah Kabupaten di Jatim, yap Jombang. Saya anak ke-3 dari tiga bersaudara.

Sejak kecil, saya tumbuh di lingkungan yang sederhana dan menyenangkan. Autobiografi ini saya tulis sebagai bentuk refleksi atas perjalanan hidup saya, baik suka maupun duka, serta sebagai penghargaan saya dan juga untuk mengenang pengalaman-pengalaman yang telah membentuk saya sampai seperti sekarang ini (gatau besok :v).

Saya berasal dari keluarga yang.. biasa banget lah, ga lebih, cukup. Ayah saya merupakan anak dari keluarga yang hidup sederhana di desa terpencil yang berada di lereng gunung Semeru, Lumajang. Beliau merupakan pekerja keras yang gigih dan berani untuk mencarikan nafkah bagi keluarga saya, mulai dari pengawas proyek hingga menjadi asn. Sedangkan ibu saya merupakan bagian dari keluarga yang hidup di pusat kota Jombang. Kedua orang tua saya memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk nilai-nilai kehidupan saya.

Saya memiliki dua saudara, yaitu kedua kakak saya yang saling mendukung saya. Hubungan kami cukup erat dan saling mendukung satu sama lain. Masa kecil kami diwarnai dengan banyak kenangan, mulai dari bermain bersama, belajar bersama, diajarkan menjadi the kop (diajarin bapak) dan menghina EMYU. Saya juga sangat suka dengan perkeretaapian (railfanning) mungkin karena rumah saya deket rel dan sering diajak orang tua buat liat kereta di stasiun, karena itu juga saya suka dunia fotografi. Saya juga suka nulis-nulis (seperti ini).

Pendidikan saya dimulai dari jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) di TK Ar-Rahman Jombang, lalu melanjutkan ke Sekolah Dasar di SDIT Al-Ummah Jombang. Tidak banyak hal yang saya ingat saat masa TK.

Memasuki masa SD, sangat banyak pengalaman yang menarik di masa sekolah dasar ini, masa SD merupakan masa paling menyenangkan dengan rasa keingintahuan segalanya yang sangat besar, mungkin bumi tidak mampu untuk menyimpannya. Di masa SD, saya mulai menunjukkan ketertarikan pada beberapa mata pelajaran dan bidang seperti Sejarah, Sepakbola, Bahasa, dan beberapa mata pelajaran yang saya pelajari. Selain aktif belajar, saya juga cukup banyak memiliki banyak teman pada masa ini.

Pada saat sd kemarin, ada cerita saat saya sedang asik bermain dengan teman tetangga sebelah, saya sangat bersemangat saat itu karena salah satu teman saya baru pulang dari mudiknya. Saking semangatnya, saat kami sedang bermain bola bersama teman yang lainnya, saya tidak sengaja menendang kaki teman saya sampai kesakitan (pas kena tulang rawannya), saya pun panik. Untung saat itu saya pelan, dan dia hanya kesakitan ringan (kayaknya :v). Tapi yang lebih aneh, saat itu saya memakai jersey real madrid garet bale (pastinya kw yak) dan temen saya pake jersey liverpool (sama kw-nya). Dan itu bertepatan sehari setelah final ucl 2018, dan pemain yang kupake jersinya (bale) brace saat itu. Berminggu berlalu dan dia pindah rumah ke ngawi :( dan tidak akan bisa mengajak rematch saya lagi.

Satu lagi yang mumpung masih saya ingat, pada saat masih TK kayaknya. saya menyebrangi rel kereta depan pasar pon, mau nyebrang ke rumah temen. Galiat ada kereta mau berhenti di stasiun (seingatku sarangan ekspress soalya full bisnis), untungnya keretanya mau berhenti di stasiun, jadinya lambat dan saya masih sempet lari. 

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca autobiografi yang tidak penting ini. Semoga bisa menjadi inspirasi (ga mungkin :v) atau sekadar pengenalan singkat tentang siapa saya.

Pekanbaru Death Railway UNFINISHED

Geopark Silokek, mungkin banyak yang mengenal nama tempat itu. Seperti yang kita tau, di balik tempat yang indah ini juga terdapat jalur ker...